STRUKTUR LAPISAN KULIT BUMI DAN PENJELASANNYA

Struktur Lapisan Kulit Bumi dan Penjelasannya. Bumi adalah salah satu planet tata surya. Bumi berupa benda angkasa yang pijar dan sangat panas.

Setelah berjuta-juta tahun, bumi yang pijar dan sangat panas tersebut perlahan-lahan mengalami pendinginan.

Bagian kulit menjadi beku, walaupun bagian dalam masih tetap panas.

(Struktur Lapisan Batuan Lithosfer)

Struktur Lapisan Batuan Kulit Bumi


Bumi terdiri dari 3 macam lapisan batuan, yaitu inti bumi, selimut atau mantel, dan kerak/kulit bumi.

1. Inti Bumi (Barisfer)


Susunan lapisan batuan inti bumi terdiri dari nikel dan ferum (besi).

Ketebalan dari inti dalam sampai inti luar bisa mencapai 3.470 km.

Memiliki tekanan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi kurang lebih 5.500 derajat Celcius.

Pada bagian dalam inti bumi berbahan padat dan bagian luar inti bumi cair.

2. Selimut Bumi (Asthenosfer)


Disebut selimut atau mantel karena lapisan ini mengelilingi inti bumi.

Terletak di antara lapisan kerak bumi dan lapisan inti bumi karena itu disebut juga lapisan pengentara.

Lapisan ini selalu bergerak karena bahannya terdiri dari zat cair yang sangat panas bergejolak.

Di sinilah lempeng-lempeng kerak bumi menumpang, bagaikan papan yang terombang-ambing di atas air. Ini pula yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng.

Setiap tahunnya lempeng-lempeng kerak bumi bergerak sekitar 1 - 10 cm atau 100 km persepuluh juta tahun.

Tebal selimut bumi hingga 1700 km. Bersifat amorf plastis.

3. Kulit Bumi (Lithosfer)


Lapisan ini letaknya paling luar kulit bumi sampai yang kita pijak dan menjadi tempat tinggal segala makhluk hidup.

Lapisan kulit/kerak bumi dibagi lagi menjadi 3 lapisan, sebagai berikut:


a. Kulit bumi granitis

Kulit bumi granitis tersusun dari silisium dan aluminium, disingkat SIAL. Itulah kenapa lapisan ini disebut juga Lapisan SIAL.

Memiliki 59,12% oksida silikon, dan Memiliki 15,34% oksida aluminium.

Ketebalan lapisan ini 20 km.

Di atasnya berlangsung kehidupan segala makhluk hidup.

b. Kulit Bumi Basaltis

Tersusun atas silisium dan magnesium atau disingkat SIMA. Dan disebut pula dengan Lapisan SIMA.

Karena kedua kandungannya tersebut Lapisan SIMA lebih berat dari Lapisan SIAL.

Di dalamnya terkandung oksida silikon, magnesium, dan oksida aluminium.

Sifat elastis dengan ketebalan mencapai 60 km.

c. Mantel Pridotif

Letaknya paling bawah atau paling dalam dari lapisan kerak bumi (lithosfer). Disebut mantel karena lapisan ini sudah berada di selimut bumi atau termasuk juga bagian dari selimut bumi.

Lapisannya  terdiri dari senyawa ferum, silisum dan magnesium, hingga dinamai pula dengan Lapisan FESIMA.

Sifat batuannya amorf plastis (elastis) dengan ketebalan 1.120 km.

Lapisan kerak bumi jika tidak ditambahkan dengan mantel pridotif, maka ketebalan kulit bumi kita setebal 80 km.

Penjelasan dari Struktur Lapisan Kulit Bumi


Inti Bumi (Inti dalam dan inti luar), merupakan massa cair liat yang sangat kental dan sangat panas, yang terdiri atas nikel dan besi (nife).

Temperatur di bagian pusat bumi kurang lebih 5.500 derajat Celcius. Kerak bumi yang dingin dan padat massa jenisnya lebih kecil dari massa cair yang ada di bawahnya.

Karena itulah kerak bumi terapung di lapisan mantel yang cair liat.

Kerak bumi yang membentuk dasar samudera disebut lempeng samudera, sedangkan kerak bumi yang membentuk benua disebut lempeng benua.

Lempeng samudera bergerak dari tengah samudera karena tertekan dari bawah lempeng yang cair pijar. Lempeng yang bergeser akhirnya akan bertumbukkan dengan lempeng yang lain.

Pergerakan kedua lempeng ini, akibat adanya arus konveksi. Arus konveksi terjadi karena pemanasan yang terus menerus pada lapisan inti bumi.

Seperti yang dijelaskan dalam teori tektonik lempeng bahwa lempeng (kerak bumi) selalu bergerak akibat pengaruh arus konveksi.

Karena tumbukkan lempeng samudera dan lempeng benua tersebut terjadi proses seperti tampak pada gambar di bawah.

(Terjadinya tabrakan lempeng samudera dan lempeng benua akibat arus konveksi)

Lempeng samudera yang bergeser ke kanan akan bertabrakan dengan lempeng benua, kemudian menunjam ke bawah, dan leleh karena panas dan berubah menjadi magma yang mengeluarkan energi (tenaga).

Bila tumpukan magma dan tumpukan energi tersebut terus bertambah dan menjadi sangat besar, akhirnya akan menyebabkan terjadinya hal-hal berikut:

1. Magma yang akan menerobos lempeng benua di atasnya melalui retakan atau patahan dan terbentuklah gunung api. Gejala semacam ini disebut vulkanisme.

2. Tumpukkan energi di bagian penunjaman begitu besar, maka energi tersebut mampu menggoyang atau menggetarkan lempeng benua dan lempeng samudera di sekitarnya. Getaran ini disebut gempa bumi.

3. Gerak lempeng, tekanan ke atas dari magma dan energi yang terkumpul di daerah penunjaman, akan mampu menekan lapisan kulit bumi sehingga kulit bumi bisa melengkung atau bahkan patah. Gejala ini disebutk tektonisme.

Ketiga gejala tersebut di atas, yakni vulkanisme, seisme (gempa bumi), dan tektonisme (diastropisme), semuanya berupa tenaga yang berasal dari dalam bumi, dan dinamakan tenaga endogen (endo = dalam).

Di daerah konveksi akan terbentuk relief muka bumi yang berujud:

a. Gunungapi bawah laut.

b. Lembah bawah laut.

c. Pegunungan bawah laut.

Relief muka bumi yang terbentuk di daerah tumbukkan lempeng adalah:

a. Palung laut.

b. Pegunungan.

c. Gunungapi aktif.

d. Pulau-pulau lipatan.

Lempeng samudera dan lempeng benua ternyata bergeser-geser atau berjalan-jalan.
(Relief muka bumi di daerah/zona subduksi)

Daerah subduksi merupakan salah satu tempat terbentuknya deretan gunung berapi dan gempa bumi.

Sebelum beralih baca juga: Jenis-jenis Tanah, Pengertian dan Cirinya.

Demikian akhir dari artikel Struktur Lapisan Kulit Bumi dan Penjelasannya. Silahkan di share kepada teman-teman yang lain dan terima kasih atas kunjungannya di blog ini.

Related Posts:

Disqus Comments
© 2018 KuNyoba - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger