Cara Masyarakat Praaksara Mewariskan Masa Lalunya

Cara Masyarakat Praaksara Mewariskan Masa Lalunya

Jika anda membaca buku sejarah, mungkin ada hal yang menarik bagi anda untuk dipertanyakan, terutama berkaitan dengan manusia yang hidup pada masa prasejarah.

Pertanyaan yang mungkin ingin anda sampaikan (seperti yang pernah saya alami) adalah bagaimana orang-orang prasejarah tersebut yang tidak mengenal tulisan, mewariskan masa lalu mereka untuk generasi-generasi yang jauh dari zaman mereka,, seperti zaman kita sekarang ini?

Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, mari luangkan beberapa menit waktu waktu anda untuk membaca artikel ini.

Kehidupan manusia purba Indonesia diperkirakan sudah ada sejak zaman Pleistosin atau biasa disebut zaman Es. Zaman Pleitosen ini diperkirakan berlangsung sekitar 600.000 tahun, kemudian memasuki kala Holosin (alluvium) yang diperkirakan berlangsung selama 20.000 tahun.

Pada kala holosin ini hidup dan berkembang manusia prasejarah seperti jenis manusia sekarang yang dikenal dengan homo sapien. Mereka tinggal didalam gua-gua di pegunungan dan pinggir.

Bentuk fisik atau tubuh, kehidupan sosial dan mata pencaharian, serta pola pikir kebudayaan mereka, terus berkembang ditempa oleh lingkungan alam tempat tinggal.

Perkembangan kehidupan dan kebudayaan manusia praaksara (nirleka) dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan purbakala berupa fosil dan artefak yang tertanam di dalam kedalaman lapisan tanah..

Para ahli paleoantropologi berupaya keras bertahun-tahun melakukan penelitian untuk menyingkap tabir prikehidupan dan budaya mereka.

Ada dua cara yang dilakukan para ahli dalam mempelajari fosil peninggalan manusia purba ini.

1. Stratigrafi, yaitu cara mempelajari peninggalan purba berdasarkan letaknya dalam lapisan tanah.

2. Tipologi, yaitu cara mempelajari peninggalan purba dengan mengelompokkan benda-benda purbakala ke dalam kelompok yang sejenis.

Dengan cara-cara tersebut para ahli sejarah atau pakar paleoantropologi tersebut dapat merekontruksi bentuk dan cara hidup manusia purba pada masa itu. Dari sinilah kemudian dapat tersingkap sedikit bagaimana cara hidup dan budaya mereka.

Memang hanya sedikit sekali yang dapat disingkap pada masa kita sekarang. Kendala ini disebabkan banyak peninggalan purbakala yang masih belum ditemukan dan  yang tidak dapat diteliti lagi dengan menggunakan teknologi yang ada sekarang, karena keadaan fosil yang rusak. Ditambah lagi karena memang tidak ada bukti tertulis yang menyingkap kehidupan mereka.

Cara Nenek Moyang Indonesia Mewariskan Masa Lalu


Masyarakat Indonesia sekarang adalah pewaris dari para nenek moyang yang hidup pada ribuan bahkan ratusan ribu tahun yang lampau. Warisan mereka berupa beragam budaya, adat istiadat, kesenian, tarian, sikap hidup, dan bahkan aliran kepercayaan seperti, animisme dan dinamisme masih ada yang melekat di elemen kecil masyarakat tertentu.

Lalu bagaimana cara nenek moyang kita yang belum mengenal baca tulis itu mewariskan masa lalu mereka, sehingga kita bisa dapat temukan sekarang?

Dengan melalui dua cara, nenek moyang bangsa Indonesia yang hidup pada masa praaksara mewariskan masa lalu mereka kepada generasi kita sekarang, yaitu:

1. Melalui keluarga


Hubungan sosial yang langgeng pertama kali dibangun dalam keluarga. Mereka belajar banyak tentang bahasa, kemampuan berkomunikasi, dan unsur-unsur kebudayaan yang lain. Dalam keluarga hal yang terpenting untuk diwariskan kepada generasi penerusnya cenderung bersifat nonmaterial seperti pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma, bahasa, dan cerita dongeng.

2. Melalui masyarakat


Sejak mulai menetap, manusia purba menyadari bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain. Karena itu melalui kebersamaan, mereka mewariskan sifat gotong-royong. Hal ini secara tidak langsung memberikan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat yang bersangkutan dari masa masa ke masa.

Mengingat nenek moyang kita, tidak mengenal tulisan (nirleka), mereka mewariskan masa lalu dan budaya mereka dengan cara-cara berikut:

1. Cara Folklor


Maksudnya masyarakat praaksara mewariskan adat istiadat, cerita/dongeng, teka-teki dan nyanyian rakyat melalui tradisi lisan dari generasi ke generasi tanpa dibukukan, sampai si pembuat cerita atau pembawa pesan tadi tidak diketahui siapa orangnya.

Sedangkan arsitektur rakyat, kerajinan tangan rakyat, pakaian dan perhiasan tradisional, obat-obatan tradisional, makanan dan minuman tradisional, bunyi isyarat, dan musik tradisional disebar luaskan dan diwariskan melalui folklor non lisan.

2. Mitologi atau mitos


Mitologi adalah cerita-cerita rakyat yang beredar di tengah-tengah masyarakat yang biasanya menceritakan kehidupan/petualangan dewa-dewi, makhluk halus dan makhluk-makhluk suci lainnya serta diyakini kebenarannya.

Contoh:

Mitos Dewi Padi

Mitos Doyan Mangan

Mitos Pantai Laut Selatan dengan Nyi Roro Kidul-nya

Mitos Hercules, Hannoman, Ramayana, Mahabrata dsb.

3. Legenda


Legenda mirip dengan mitos (yaitu diyakini benar-benar pernah terjadi) namun diceritakan dalam bentuk prosa dan mengandung nasehat atau petuah tentang benar dan salah dan yang menjadi tokoh cerita adalah manusia bukan makhluk halus atau setengah manusia.

Karena banyak dari legenda ini yang mendekati kenyataan/kebenaran maka legenda yang demikian sering disebut juga sejarah kolektif (folk history).

Contoh:

Legenda para person Wali Songo, Gajah Mada, Tangkuban Perahu, Hang Tuah, dan lain sebagainya.

Note.

Paleoantropologi adalah cabang ilmu sejarah yang mempelajari perkembangan kehidupan manusia purba pada masa prasejarah.

Baca Kehidupan Masyarakat Indonesia Masa Prasejarah.

Demikianlah beberapa cara masyarakat prasejarah mewariskan masa lalu mereka kepada generasi yang akan datang sesudah mereka. Kemungkinan besar mereka tidak sadar dan tidak tahu, apa yang telah mereka lakukan pada masa lalu telah sampai beritanya pada kita. Benar, bukan?

Related Posts:

Disqus Comments
© 2018 KuNyoba - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger